Minggu, 04 Maret 2012
Jumat, 20 Januari 2012
Teriakan Sepeda Motor
Peristiwa ini sebetulnya baru saja terjadi pada hari Sabtu lalu-pada saat saya pulang dari les bahasa Inggris. Karena si B yang perempuan naik kendaraan yang bisa membakar lemak alias mercykil, pulangnya dia tidak mau membakar lemaknya lagi. Capek.
Terus si B ini teriak-teriak minta numpang/nebeng sepeda motor temen-temen. Karena saya, si D, si Y, si RA sama si M nggak naik sepeda motor, maka si B mencari korban lain. Yup, akhirnya dia menemukan mangsanya! *bawa jaring.
Si G-lah yang menjadi korban tebengan si B. Tapi sebenernya, si G ini nggak mau kena tebeng si B, karena dua alasan yang menurut kami agak lucu. Pertama, alasannya si B selalu harus yang nyetir alias pegang kendali sepeda motor. Si B kan cewek, nggak pake helm dan lucu banget kalo cewek gonceng cowok (kecuali itu ada hubungan keluarga atau teman dekat). Kedua, si G ini bilang kalo si B nyetirnya nyandet-kenceng-ngebut-nyandet-ngebut-nyandet-kenceng-dan teruskan sendiri. Makanya dengan dua alasan itulah si G nggak mau ditebengi sama si B.
Namun apa daya, si B terus memasang wajah memelasnya. Ya karena terus memaksa bak-ibu-rumah-tangga-kehabisan-minyak-tanah, akhirnya si G menuruti permintaan ibu rumah tangga itu #eh.
Begitu si B sudah mengambil kendali sepeda motor...
B: (muter kunci sepeda) "Udah siap? Cepetan, keburu maghrib lho"
G: (nelen ludah)
Dan ketika si B menggeber sepeda motor laki-laki milik si G itu. Bener banget jalannya mamen, nyandet ngebut nyandet ngebut gitu dah ya.
G: "Nan, aku dhisik-WOOOOOO!!"
Cerita ini di akhiri dengan teriakan si G yang melolong bagai monyet-liat-kebun-pisang-berhektar-hektar.
Kamis, 05 Januari 2012
DUU-REE-AAN from Alexander

Jadi, ceritanya Alexander makan durian sama air kelapa muda. Udah lama sih, tapi juga baru tahu nih saya ._.V Enak banget itu duriannya tahu. Dibelakangnya juga masih banyak durian. :P *nelenludah
Salam sapi lagi kentut!
@iPSYchoclathcy
Sabtu, 12 November 2011
Sabuk Pengaman!
Ada polisilambai-lambai tangan ke mobil. Aku sama bunda langsung aja heran. Emang kenapa? Apa coba salah kita? Nyalain lampu sudah.
Polisi : "Permisi bu.. bisa keluar sebentar?"
Bunda: "Ooh, iya pak...iya..."
Aku: *ngintip*
Polisi: "Sabuk pengamannya kenapa nggak dipake bu?"
Bunda: *nengok ke dalam mobil* Oh, ini pak..tadi abis dari ngisi bensi, makanya lupa"
Polisi : "Boleh saya liat STNK-nya bu?"
Bunda: *ngeluarin dompet* *nunjukin STNK*
Polisi: "Ya sudah bu.. dipake ya, sabuk pengamannya. Sekarang lagi digalakkan nih bu"
Bunda: *angguk-angguk* Iya pak....
Aku: *cekikikan di dalam mobil*
Yah, bagian yang ngisi bensin itu sebenarnya botol loh. (BOhong TOtaL)
Rabu, 07 September 2011
SELEBAT HUTAN RAWA
I got this picture from @OCHASYAMSURI's twitpic, thanks for sharing this onnie~ \^o^/
Minggu, 04 September 2011
Eid Mubarak's Holiday #4 - Bintang..Bulan....
Cast: Pakdhe Pipik, Saya
Suatu sore, saya lagi mau shalat Ashar. Ya, shalat Ashar dulu lah, terus baru garap proyek video yang belum selesai juga.
Nah, ini kejadiannya begini nih!
Pas shalat rakaat kedua, pintu kamar mandi di kunci. Aku bisa denger-dan kemungkinan salah satu dari keluarga Lampung ada yang lagi berurusan dengan alam kamar mandi (ealah, bahasa apaan ini?). Jadi, di awal perjanjian itu, kalau salah satu pihak dari keluarga Jember yang memakai kamar mandi, maka pintu kamar mandi keluarga Lampung dikunci. Begitu juga sebaliknya :)
Tapi kali ini urusannya bukan karena pintu kamar mandi dikunci itu, kawan. Namun....
Saya: (Shalat)
Pakdhe Pipik: "Bintang.. bulan.... na..na..na..na..na...."
Saya: (nahan ketawa karena dengar suara pakdhe Pipik yang begitu fals-nya)
Pakdhe Pipik: "Bersinar.. du..du..du.... naaaaaa~~ naa na naaaa~~~" (suaranya meliuk-liuk dan bertambah fals)
Saya: (semakin tersiksa menahan tawa)
Pakdhe Pipik: "Hihihih~~~~~Hihihih~~~ hi...hiii....hi.... (lalu bersiul) fiu..fiu.. (jeda) FIUUUUU~~~"
Saya: (akhirnya..) "NYAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHHHAHAHA" (ketawa ngakak abis, guling-uling di lantai.
Hilang sudah kesempatan pertama shalat Ashar saya gara-gara nyanyian melolong pakdhe Pipik.
Jumat, 02 September 2011
Eid Mubarak's Holiday #2 - POS INDONESIA
http://twitpic.com/show/iphone/6eqo8y
http://twitpic.com/show/iphone/6eqpr1
http://twitpic.com/6esmc3
Err, saya juga minta maaf karena kebanyakan fotonya nggak fokus ke orangnya *kamsud saya itu orangnya lihat ke kamera, gitu. Karena saya bener-bener nggak berani untuk bilang "boleh enggak aku ngambil gambar kamu?" <<----- KATA-KATA YANG SAYA TAKUTI.
NB: Ampun mas Arif. Ampun. Abis kaosmu itu mas, nggak nahan XD
Eid Mubarak's Holiday #1 - Hai Cewek....
Tersangka: mbak Ria *pemanggil* mbak Luki *objek* mas Arif *korban*
Tanggal 2 September ini, waktunya beres-beres dan kembali ke masing-masing tempat asal. Keluarga Lampung, pakdhe Pipik, harus berangkat lebih dulu disebabkan karena jauuuuuhh *ya iyalah, jelas banget. Lampung-Jember itu butuh nyebrang pulau* tempatnya. Alhasil, semua keluarga harus ikut-ikutan pulang pagi (sebenarnya juga ada maksudnya, biar sampai tempat tujuan nggak terlalu malam gitu). Sebelum foto bersama....
Di kamar aku, ada mbak Ria sama aku. Aku duduk lagi nyelesaikan draft blogger yang ternyata HILANG-sementara mbak Ria ngadep ke jendela cari-cari udara segar. Mas Arif lagi nyiapkan mobil (mas Arif dari keluarga Lampung) yang juga di halaman samping villa. Tiba-tiba, mbak Luki keluarga ke halaman samping lewat pintu belakang.
Mbak Ria: "Hai ceweeeeekkk~~" *nyapa mbak Luki*
Mas Arif: "Hai jugaaaa"
Langsung aja tawa kita bertiga meledak. Mas Arif cuma bisa diem, plus cengar-cengir dengan sorot mata yang bicara "apaan, sih?". Sementara mas Arif bengong lama-tawa kami tak kunjung berhenti. Bahkan perut saya sampai sakit ketawa terus.
Berhubung mas Arif punya jenggot yang belum tumbuh lebat dan rambut yang masih baru tahap pertumbuhan awal-aku langsung nyeletuk, "waah, cewek kok rambutnya nggak sehat gitu? Punya jenggot lagi!" daan, tawa mas Arif-seperti orang Lampung-tawa dengan gigi putihnya yang bikin silau *cliiiing!* dan suara ditahan di tenggorokan.
Sabtu, 27 Agustus 2011
Bromo 2009
Karena pengalaman yang ini sudah tahun 2009, jadi saya rada' sedikit pikun dengan lika-liku menuju gunung Bromo yang lagi sakit batuk beberapa bulan yang lalu.
Dan, postingan ini saya dedikasikan #eaeaea buat mbak Aya, semoga dikau menikmati cerita yang rada' aneh ini mbak.
-Begin-
Dikejar Bule Jerman
Bromo, 2009. Lupa bulan, lupa tanggal. Lupa jam berangkat pula.
Pas 2 tahun lalu, saya sama keluarga sepupu saya pergi ke Bromo. Untung gunungnya masih belum sakit batuk-tak ditemukan obat, masih sehat waktu itu Bromo-nya. Nah, buat mempersingkat cerita, langsung cekedot dari mulai WC umum aja yak?
Setelah turun dari jeep yang membawa saya dan selengkap rombongan, kami turun. Unhtuk mengantisipasi bila kebelet pipis pan baru nyampek puncak di Bromo, akhirnya kami berjalan ke WC umum terlebih dahulu (WC-nya ini bau pesing tapi bersih, rada' mual aku disini). Di luar WC inilah, penjaga WC berinteraksi pakai bahasa Inggris yang pastinya agak aneh juga. Ya, maklumin aja lah.
Abis itu, kita langsung jalan ke gunung Bromo. Sebelum mendaki, kita foto-foto heboh (udah pasti, ini tradisi yang nggak bisa ilang dari keluarga besar Hadiwinoto) dulu di depan gunung Batok. Baru abis itu kita rame-rame daki gunung Bromo-nya.
Baru naik berapa tangga, tiba-tiba Mbak Ria nyeletuk "nggak pake sendal kok panas, ya? Ganti pake sandal boleh nggak?" ini yang menyebabkan perjalanan kami diperlambat sekitar 30 menitan (pakde dan mbak Ria sama-sama telanjang kaki. Bayangin, kita jalan di pasir, dan pasirnya PANAS. Mantab tuh, kaki goreng deh :3). Pakde saya-sebagai ayah dari Mbak Ria (bahasa apaan ini, kok formal bangeeet?) manggil kuda, beliau balik lagi ke tempat jeep diparkir, ngambil sendalnya mbak Ria dan beliau sendiri, terus balik lagi.
Mendaki Bromo ini nggak perlu pake sepatu dengan duri yang kayak dipake Spongebob buat nyoblos mata pencekik di serialnya itu. Cuman sepatu biasa, yah, sepatu sekolah. Saya pake sepatu sekolah buat mendaki gunung dan hasilnya sepatu ini berubah warna penjadi hitam keabu-abuan kena terpaan debu.
Jalur pendakian ini nggak rata Skylight, jadi cuman tanah dengan debunya itu tadi. Belum nyampe pucuk gunung, udah kelilipan mata saya. Alhasil, saya lebih milih mendaki tapi di urutan belakang.
Setelah mendaki gunung, masih ada sekitar 500-an lebih tangga yang harus didaki. Disini, bunda nyuruh aku, mbak Ria, mbak Laras sama mas Puguh buat ngitung jumlah tangga. Lumayan lah, bisa buat ngabisin. Setelah samapi di puncak, nggak ada yang bisa ngitung dengan bener jumlah tangganya. Dan juga nggak ada yang mau buat ngulangi ngitung tuh tangga. Karena bau belerang yang amat menyengat, kita semua pada kompak nutup hidung pakai sarung tangan. Kami nggak lama-lama di atas, karena pada nggak kuat semua juga.
Di tangga yang ini:
Saya nggak punya foto tangga yang polos, jadi ambil foto yang ini aja, deh.
Saya dikejar bule. Bule yang tadi ngomong di WC umum sama penjaga WC-nya.
Ketika menuruni tangga, saya nyalip si bule Jerman ini. Terus, ketika sudah agak jauh dari si bule Jerman ini, tiba-tiba....
Bule: “HEII!! YOUU!! WITH BLACK TROUSERS AND YELLOW SHIRT!! WAIT FOR ME!!!!”
#JDEEER. Saya pake celana panjang hitam dan kaos kuning lengan panjang. Bule ini manggil saya?
Cepat-cepat saya balik badan, dengan mulut ala ikan koi dan telunjuk di dada. Bule Jerman semakin dekat dengan saya... dan... dan.....
Seakan-akan bule ini bilang “sorry it’s not you” dia cuma nunjuk temannya yang udah lebih jauh di bawah. DAN TEMANNYA INI PAKE CELANA PANJANG PLUS KAOS KUNING.
Oh Tuhan, aku cuma bisa ngangguk dan cengar-cengir.
*****
Setelah lewat tangga dan jalur menurun pasir, kini saatnya ke batu gede yang dibuat berteduh sebelum mendaki tadi. Disini juga kejadian.
Mbak Laras sama aku ngelewati padang pasir abu-abu. Untung aja nggak ada anginnya, jadi nggak kelilipa ini mata.
Tiba-tiba lagi, ada suara kuda meringkik dibelakang kami. Mbak Laras noleh.
Mbak Laras: “Dek... coba liat ke belakang. Lari yuk?”
Aku: “Apa-apaan sih, wong cuma.....” (noleh kebelakang, dan..) “LARIIII!!! CEPETAN LARIIII!!!!!
Bule Jerman yang berbeda lagi itu naik kuda yang dipacunya kenceng-mana ke arah kita berdua, lagi! Langsung aja kita berdua lari cepet-cepet, kalang kabut, sepatu kemasuka pasir segala. Mbak Laras mau jatuh, gara-gara kita lari muncul banyakdebu-saya kelilipan.
Alhasil, setelah lari cukup jauh, ternyata.......
..............
.................. BULE INI NGEJAR SI EMPUNYA KUDA YANG DI KEJAUHAN.
Sekali lagi, aku cuman cengir-cengir. Plus gaya ‘capek deh’ yang nggak oke, kita akhrinya jalan sampai batu gede dengan ngos-ngosan.
Mbaknya, inilah cerita saya dikejar bule Jerman naik kuda. Rada nggak lucu, ya? Saya emang bukan pelawak mbak, Cuma anak 11 tahun yang gemar makan-tidur-makan-tidur sehingga melar badannya J *peace!


